Profil Tokoh Pers Indonesia | Dr G.S.S.J Ratulangi

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi lahir pada tanggal 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara. Biasa disebut Sam Ratulangi, nama lengkapnya adalah paduan nama kakek pihak ayah, yaitu Saul Ratulangi dan kakek pihak ibu, yaitu Jacob Gerungan. Mengawali pendidikan dasar di sekolah Belanda di Tondano (Europesche Lagere School), Ratulangi melanjutkan pendidikan menengah di Hoofdenschool atau yang sering disebut sebagai ‘Sekolah Raja’ karena sekolah tersebut mewajibkan para siswanya untuk memperhatikan penampilan dan memberikan berbagai macam fasilitas.  Setelah lulus Sekolah Teknik Koningin Wilhelmina School di Jakarta, Ratulangi bertolak ke Amsterdam pada tahun 1908 dan mendapatkan ijazah guru dari Middelbare Acte. Pendidikan tinggi ia lanjutkan di Universitas Zurich, Swiss dan mendapatkan gelar Doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.

Aktif dalam berbagai organisasi politik di luar maupun dalam negeri, pada tahun 1927 Sam Ratulangi diangkat menjadi anggota Volksraad en College van Gedelegerden atau Dewan Rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengecam pemerintahan kolonial Belanda. Kevokalannya tentu tidak disukai pihak Belanda, oleh karena itu Belanda merencanakan perangkap untuk Sam Ratulangi dan berniat menjauhkan pengaruhnya dari masyarakat pengikutnya. Tahun 1936, karena ketikdahati-hatiannya, Sam Ratulangi melakukan kekeliruan dalam reis declaratie (biaya perjalanan dan angkutan barang). Biaya yang tercantum tidak sesuai dengan biaya sebenarnya. Ini adalah perangkap Belanda yang ingin melenyapkan pengaruhnya. Akhirnya Sam Ratulangi dipenjara selama 4 bulan dan mendapatkan pemecatan dari Volksraad selama 3 tahun.

Sekeluarnya dari penjara, Sam Ratulangi tidak jera dan justru melakukan terobosan sendiri. Tanpa modal sepeser pun dan dengan bantuan penuh istrinya, ia membuat majalah mingguan berbahasa Belanda, Nationale Commentaren. Majalah ini begitu populer di kalangan intelektual di Jawa pun Hindia Belanda hingga akhirnya menjadi mingguan paling berpengaruh pada rentang tahun 1938-1942. Nationale Commentaren semakin berkembang. Sebelum membuat Nationale Commentaren, Sam Ratulangi bersama dr. M. Amir pernah menerbitkan majalah mingguan berbahasa Indonesia pada tahun 1934 bernama Penindjauan. Penindjauan berisi segala hal aspek kehidupan, mulai dari tinjauan dalam dan luar negeri, budaya, ekonomi, hingga bacaan anak-anak dan dunia wanita.

Kegagalan Belanda dalam mem-bendung Sam Ratulangi dan membuatnya jera tak membuat mereka mundur begitu saja. Menjelang meletusnya Perang Pasifik, Sam Ratulangi ditangkap oleh pihak Belanda dengan tuduhan Natinaonale Commentaren adalah alat subversi Jepang.  Tuduhan tersebut nyata-nyatanya hanya tuduhan belaka dan Sam Ratulangi dibebaskan.

Mendirikan Soember Darah Rakjat (Soedara, semacam Poetera) pada tahun 1944-1945, bulan Agustus 1945 ia dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 22 Agustus 1945, Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Selebes (sekarang Sulawesi). Bulan Desember di tahun yang sama, Sam Ratulangi menghadap PBB memprotes akan dipisahkannya Sulawesi dari Indonesia.

Tak lama kemudian pada 5 April 1946 ia dan beberapa stafnya disergap dan dibuang oleh Belanda ke Serui, sebuah pulau terpencil di dekat Biak. Dua tahun kemudian ketika Perjanjian Renville ditandatangani ia dibebaskan dan pulang ke Jawa. Malang baginya, ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung, ia kembali ditangkap. Dikarenakan ia terkena serangan jantung, pembuangannya ke Bangka ditangguhkan sampai ia sembuh, namun kehendak lain terjadi. Sam Ratulangi meninggal dunia 30 Juni 1949 atau sepuluh hari setelah dirumahkan. Atas jasa-jasanya, DR.G.S.S.J Ratulangi mendapatkan anugerah berupa Bintang Gerilya, Bintang Mahaputera Tingkat II, Bintang Satyalencana dan ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

(Visited 261 times, 1 visits today)