Soedardjo Tjokrosisworo adalah salah satu tokoh perintis pers Indonesia. Bersama sembilan orang lainnya, Soedardjo dikenal sebagai tokoh perintis pers Indonesia yang namanya diabadikan di Monumen Pers Nasional Surakarta. Nama lainnya yaitu: R. Darmosoegito, R. Bakrie Soeriatmadja, Soetopo Wonobojo, R.M Bintarti, Dr. Abdul Rivai, DR. GSSJ Ratulangie, RM. Tirto Adhi Soeryo, Dr. Danudirdja Setiabudhi, dan Djamaludin Adinegoro.
Sejak kecil Soedardjo sudah bergelut dengan dunia koran dan majalah. Soedardjo mengirim karangannya kepada beberapa surat kabar, antara lain: Oetoesan Hindia, Penggoegah, Persatoean Hindia, Sri Djojobojo, De Assistant, Islam Bergerak, Warna Warta dan Sin Po. Kemudian kesenangannya mulai diseriusi ketika Soedardjo magang di Darmo Kondo dari 1922 sampai 1926.
RM Soedardjo Tjokrosisworo adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia yang pertama. Menurut Mr. Soemanang, dalam suratnya yang ditujukan untuk re-daksi Majalah Pembinaan Bahasa Indo–nesia pada 12 Oktober 1983, pencetus Kongres Bahasa Indonesia ialah Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, wartawan ha-rian Soeara Oemoem Surabaya, yang pada waktu itu rajin sekali menciptakan istilah-istilah baru, dan sangat tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat-surat kabar Cina.
Dalam percakapan antara Mr. Soemanang dengan RM Soedardjo Tjokrosisworo, kemudian terdapat per-tanyaan yang dilontarkan kepada Soemanang, yaitu tentang gagasan diadakan Kongres Bahasa Indonesia. Soedardjo yang akan menggerakkan pengusaha-pengusaha juga tokoh-tokoh di Solo, dan kemudian Mr. Soemanang menyanggupi untuk menghubungi tokoh-tokoh serta kaum terpelajar di Jakarta.
Mereka berdua berhasil meyakinkan para penulis yang tergabung dalam Poedjangga Baroe. serta para jurnalis, guru, dan peminat-peminat lain. Sehingga terwujud lah Kongres Bahasa Indonesia I pada Sabtu, 25 Juni 1938 di Societeit Habiprodjo, Solo. Dihadiri pula oleh perwakilan-perwakilan dari sultan Yogyakarta, Sunan Solo, Paku Alam, Mangku Negara, Pers Indonesia maupun Tionghoa, dan wakil dari Java Instituut. Dari kongres itulah diperoleh kesepakatan-kesepakatan tentang penggunaan bahasa Indonesia.
Selain itu RM Soedardjo Tjokrosisworo juga dianggap sebagai salah seorang pelopor gerakan bersatunya wartawan seluruh Indonesia. Kemudian beliau mendirikan Badan Moesjawarah Djoernalistiek (BMD) yang merupakan pelopor dari berdirinya PERDI yang sekarang menjadi Persatuan Wartawan Indonesia. Pada 1960-an beliau menderita sakit dan dirawat di RSUP Jakarta, sampai pada akhirnya RM Soedardjo Tjokrosisworo tutup usia.

