Adinegoro (Djamaluddin Datuak Madjo Sutan) adalah seorang sastrawan kreatif Minangkabau yang lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Agustus 1904. Nama aslinya adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan, sedangkan Adinegoro merupakan penghargaan tertinggi yang diperolehnya pada tahun 1974 dari Persatuan Wartawan Indonsia yang diberikan atas karyanya di bidang jurnalistik yang selalu menduduki peringkat terbaik di setiap tahunnya. Beliau juga kerap dipanggil Djamaluddin Adinegoro atau Adinegoro. Muh. Yamin adalah saudara tirinya, mereka dilahirkan dari rahim ibu yang berbeda namun satu ayah.
Adinegoro pernah menyicipi pendidikan di Berlin, Jerman Timur. Beliau Mendalami jurnalistik. Di Berlin, Beliau juga mempelajari kartografi, geografi politik, dan geopolitik. Karena ilmu jurnalistik yang dikantonginya, kerapkali ia lebih dikenal sebagai sosok seorangg wartawan, dari pada seorang sastrawan. Beliau mengawali kariernya sebagai wartawan di majalah Cya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu beliau mampu menulis artikel masalah luar negeri.
Ketika menempuh pendidikan di luar negeri (1926-1930), ia juga menjadi wartawan bebas (freelance journalist) di surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta).
Pada tahun 1931 ketika Adinegoro kembali ke tanah air, beliau memimpin majalah Panji Pustaka selama enam bulan. Kemudian beliau memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932-1942). Beliau juga pernah memimpin Sumatra Shinbun selama dua tahun. Pada tahun 1948 hungga tahun 1950, ia bersama Prof. Dr. Soepomo memimpin Yayasan Persibo Indonesia. Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi KBN Antara). Beliau ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Adinegoro juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara hingga akhir hayatnya.
Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya ditulis pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama novelis besar Indonesia, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan.
Selain kedua novel tersebut, Beliau juga membuat novel lainnya yaitu Melawat ke Barat yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa yang diterbitkan pada tahun 1930. Beliau juga pernah terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya yang merupakan tanggapan polemik saat itu berjudul Kritik atas Kritik terhimpun dalam Polemik Kebudayaan pada tahun 1977 dengan Achdiat Karta Mihardja sebagai editornya.dalam tulisannya, Beliau berpendapat bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada setiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan yang khas yang tidak dapat diatur oleh orang lain. Beliau memberikan contoh perbandingan yang menyatakan bahwa pohon rambutan tidak akan berbuah mangga, dan sebaliknya.

