Gejog Lesung Masih Hidup di Sleman

Pelan namun pasti, diiringi tabuhan alu, ibu-ibu itu bernyanyi. Terkadang terdengar suara fals tabuhan, terkadang dihentikan oleh pelatih. Meski kaki kesemutan, ibu-ibu setengah baya itu tetap semangat berlatih gejog lesung dengan lagu lumbung desa.

Lelagon lumbung deso
Lumbung deso pra tani podho ma karyo
Ayo dhi
Njupuk pari nata lesung nyandhak alu
Ayu yu
Padha nutu yen wis rampung nuli adang
Ayo kang
Dha tumandang nata lesung karo lumpang


©nadzifah

Lesung telah dikenal masyrakat Jawa sejak abad IX Masehi. Lesung dan alu digunakan petani untuk menumbuk padi, hiburan, dan alat komunikasi. Kemajuan teknologi menjadikan lesung dan alu beralih fungsi menjadi instrumen musik, yang disebut gejog lesung. Gejog lesung kini mulai bergaung kembali, berbenah dan menyesuaikan dengan permintaan pasar tanpa menghilangkan nilai budaya dan tradisi.

Hampir setiap kecamatan di Kabupaten Sleman memiliki kegiatan kesenian gejog lesung. Salah satunya adalah Tjipto Sworo, dari masyarakat Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman. Pada 2 April lalu, mereka meluncurkan film fiksi dan dokumenter “Di Tangan Sang Renta”, film gejog lesung hasil kerjasama dengan Pixel. Film ini mengisahkan awal kehadiran lesung di Kalasan dan memadukan kisah tersebut dengan mitos yang ada di masyarakat. Melalui film tersebut, ada harapan gejog lesung dapat dikenal secara internasional sambil mempertahankan tradisi.

Proses menumbuk padi dengan lesung dan alu umumnya dilakukan oleh ibu-ibu. Ketika lelah menumbuk, mereka menyelingi dengan memukulkan alu ke lesung sehingga menghasilkan suara tak beraturan. Di setiap pukulan alu, pada bagian dan posisi yang berbeda menghasilkan suara yang berbeda. Kemudian terciptalah irama-irama sederhana yang dikenal dengan jathilan, kucing anjlog, arang loro, tong-tong cot, nenun, dan yang lainnya. Sejak itu, lesung menjadi sarana hiburan sekaligus alat komunikasi. Gejog lesung dahulu dilakukan malam hari terutama ketika bulan purnama atau gerhana bulan untuk mengusir “butho” yang memakan bulan, seperti mitos yang mereka percayai. Selain pada dua waktu itu, gejog lesung mengundang masyarakat untuk menghadiri acara besar seperti pernikahan dan khitan.
[slideshow_deploy id=’6635′]
“Sekarang mencari lesung sudah sulit. Harganya bisa jutaan. Lesung itu sudah beralih fungsi. Dahulu dipakai sebagai alat menumbuk padi, sekarang untuk mengiringi lagu, kemudian ada yang menari, ada yang menyanyi. Pada satu kelompok, umumnya ada lima hingga enam orang. Menyesuaikan dengan posisi masing-masing. Satu lesung itu ada yang di posisi gawe, arang, kerep, ndundung, amblung,” kata Humam (70) pelatih gejog lesung di Pedukukan Pendulan Sumberrahayu Moyudan saat ditemui Jum’at (27/3) di rumahnya.

Gejog lesung merupakan seni merasa, menyesuaikan satu pukulan dengan pukulan lainnya. Tidak mudah memang memainkannya, tak heran jika pemain gejog lesung umumnya telah lanjut usia. Untuk regenerasi pemain dan pelestarian budaya, beberapa paguyuban mulai berbenah diri. Menyesuaikan dengan konsumen tanpa meninggalkan tradisi. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pemerintah memberikan wadah khusus dengan mengadakan festival kesenian ditingkat kabupaten dan provinsi, serta pembinaan.

“Pemerintah memiliki tiga tahapan dalam pembinaan, pertama adalah tahap tumbuh, tahap berkembang, dan tahap mandiri. Target kita setiap paguyuban ada pada tahap mandiri. Pada tahapan ini, pemerintah hanya sebagai perantara antara pasar dan kelompok kesenian. Misal, ada hotel yang membutuhkan penampilan seni, kami carikan yang cocok kemudian kami minta kelompok kesenian untuk mengajukan proposal,” kata Eko Ferianto Kepala Seksi Perlindungan dan Pelestarian Kesenian Dinas Kebudayaan Sleman.

 

 

(Visited 15 times, 1 visits today)