Tantangan Teknologi RRI Yogyakarta

Sebagai radio publik, RRI dituntut untuk terus berinovasi supaya dapat melayani seluruh warga. Di bidang teknologi, RRI Yogyakarta juga berupaya mengikuti perkembangan terbaru. Apa saja teknologi itu dan kontribusinya bagi penyiaran?

Tri Heroe, dari Bidang Transmisi dan Distribusi RRI Yogyakarta, mengatakan bahwa salah satu teknologi mutakhir itu adalah Radio Broadcast Organizer yang digunakan di ruang redaksiRBO merupakan aplikasi yang dalam penggunaannya harus terhubung dengan jaringan internet.  Perangkat ini memudahkan penyiar dalam mengedit, menyimpan, menyiarkan, dan meng-copy konten yang direncanakan akan disiarkan beberapa hari kemudian.

RRI Yogyakarta juga memiliki OB Van, yakni teknologi penyiaran berbentuk mobil dan digunakan untuk  melaporkan peristiwa secara langsung kepada pendengar. Jumlah tenaga yang membantu pengoperasiannya disesuaikan dengan acara. Untuk acara kecil seperti jumatan atau acara di gereja memerlukan 3-4 orang, tetapi untuk acara besar seperti pertunjukan kethoprak, wayang kulit, atau acara kepresidenan memerlukan 6-8 orang. Keberlangsungan siaran di OB Van sendiri dibantu pemancar STL.

Ob Van yang Diparkir di Halaman Belakang RRI Yogyakarta (Kotabaru). (Retyan Suci A.)
Ob Van yang Diparkir di Halaman Belakang RRI Yogyakarta (Kotabaru). (Retyan Suci A.)

Pemancar STL hanya dapat menjangkau batasan kilometer tertentu. Pemancar STL milik RRI Yogyakarta dapat ditemui di daerah Kaliurang, Seturan, dan Wonosari. Ketiga pemancar STL tersebut harus tegak lurus dengan pemancar STL yang ada di RRI Yogyakarta (Kotabaru) supaya siaran dapat diterima dan didistribusikan dengan baik. Pemanfaatan pemancar STL sifatnya lebih merakyat karena dapat diterima oleh radio pada umumnya.

Tri Heroe menuturkan bahwa selain menggunakan pemancar STL, RRI juga menggunakan satelit dan internet untuk distribusi dan transmisi siaran. Penggunaan satelit dapat membuat orang di luar Yogyakarta menangkap siaran RRI Yogyakarta. Begitu pula dengan orang Yogyakarta yang juga dapat menerima siaran dari RRI luar Yogyakarta (radio berjaringan). Kemudahan akses RRI ini juga bisa dinikmati pengguna internet dengan cara streaming.

Pemanfaatan teknologi satelit membutuhkan adanya parabola untuk menangkap dan memantulkan siaran.  Sedangkan, untuk pemanfaatan teknologi internet tentunya dibutuhkan gawai yang memiliki fitur dan jaringan internet. Berbeda dengan penggunaan pemancar STL, teknologi satelit dan internet hanya dapat dinikmati warga dengan perangkat teknologi lanjut.

RRI juga sudah memiliki aplikasi bernama RRI Play yang memudahkan masyarakat untuk mengakses siaran. RRI juga pernah memiliki TV RRI, tetapi kemudian tidak diizinkan lagi untuk tayang. Hal ini diakibatkan karena RRI dinilai memiliki ciri khas berupa audio, bukan video juga. Namun, ketika ada acara-acara tertentu, RRI dapat melakukan setting terhadap TV ini sehingga dapat diakses kembali oleh masyarakat.

RRI Yogyakarta juga memanfaatkan teknologi genset untuk menjamin siaran tetap berlangsung listrik dari PLN. Namun, genset ini masih manual. Tri Heroe berharap genset yang ada akan segera diganti dengan genset otomatis yang lebih praktis.

Pelayanan RRI Yogyakarta kepada masyarakat melalui teknologi yang diusungnya ini bukanlah tanpa hambatan. Imma Priyansari, warga Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, menunjukkan kekecewaannya karena dirinya kesulitan mengakses RRI Yogyakarta dari aplikasi radio di ponselnya. “Sebagai radio nasional, RRI seharusnya bisa sampai pelosok,” katanya. Ia mengaku tidak dapat mendengar siaran dari RRI Pro 1 (91.1 FM) dan Pro 2 (102.5 FM) Yogyakarta sama sekali. Ia juga mengatakan bahwa ia hanya sekali bisa mendengarkan siaran RRI Yogyakarta, yakni Pro 3 (102.9 FM), tapi suaranya tidak jelas.

Tidak jauh berbeda dengan Imma, Putri Cahyaningtyas, warga Kecamatan Lendah, Kulon Progo, mengungkapkan bahwa dari daerah tempatnya tinggal, frekuensi paling jelas yang dapat ia dengar hanyalah RRI Pro 1. Itu pun, dengan skala penilaian 1-10 untuk kejelasan frekuensinya, Putri hanya memberi nilai 5. Disusul dengan RRI Pro 2 yang tingkat kejernihannya hanya ia beri nilai 2. Sedangkan, RRI Pro 3 malah tidak dapat didengar sama sekali. Ia menambahkan bahwa siaran-siaran radio swasta dapat didengar jelas.

Menanggapi hal ini, Tri Heroe mengatakan bahwa jangkauan siaran RRI masih bermasalah. Ketinggian suatu daerah dan ketinggian menara pemancar berperan penting karena mepengaruhi kualitas frekuensi FM yang diterima masyarakat. Daerah yang terletak semakin di atas, memiliki penerimaan frekuensi yang semakin luas. Kekuatan menara pemancar yang tidak dihalangi gedung atau gunung juga menentukan wilayah jangkauan. Tidak hanya itu, arah antena juga menentukan wilayah jangkauan.

Hambatan ini diatasi dengan menambahkan pemancar pada daerah yang belum ter-cover tadi. Tri Heroe menyatakan bahwa dirinya setuju dan mendukung apabila daerah yang belum ter-cover tadi ditambahi pemancar. Apalagi jika tujuannya adalah demi meningkatkan pelayanan kepada seluruh masyarakat. Namun, untuk menindaklanjuti harus menunggu keputusan dari pusat terlebih dahulu. Sebelum turun perintah dari RRI Pusat, RRI Yogyakarta tidak dapat berbuat apa-apa.

Perangkat STL di Ruang Pemancar STL RRI Yogyakarta. (Retyan Suci A.)
Perangkat STL di Ruang Pemancar STL RRI Yogyakarta. (Retyan Suci A.)

 

(Visited 5 times, 1 visits today)