Sinar matahari terhalang oleh tembok-tembok rumah, suasana yang lembab dan sedikit gelap sangat terasa di beberapa gang kecil. Ditambah lagi hujan yang baru saja turun menyebabkan munculnya beberapa genangan air. Genangan air ini muncul karena drainase yang tidak memadai dan penataan ruang yang kurang baik.
Inilah gambaran kecil daerah Blimbingsari, salah satu padukuhan di Kecamatan Depok, Yogyakarta, yang padat hunian dan penduduk.

Daerah Blimbingsari memang terkenal sebagai daerah yang menyediakan banyak sekali kos-kosan bagi mahasiswa. Letaknya yang terbilang dekat dengan UGM dan harga sewa yang tidak terlalu tinggi menarik banyak perhatian mahasiswa pendatang. Karena permintaan yang cukup tinggi, banyak pihak yang mendirikan kos-kosan di daerah tersebut. Akibatnya daerah Blimbingsari semakin bertambah padat dan standar hunian pun kurang diperhatikan.
Salah satu standar yang kurang diindahkan adalah kesehatan perumahan. Menurut Indonesian Publichealth, jika standar kesehatan ini tidak diperhatikan, bibit penyakit dapat dengan mudah menyebar dan menjangkit warga. Salah satu yang mudah menyebar adalah demam berdarah. Berdasarkan data yang dihimpun dari ketua RT 04 padukuhan Blimbingsari, setidaknya ada tiga kasus demam berdarah yang terjadi selama 2014.
Menurut Arya, salah satu warga di Blimbingsari, sebenarnya sosialisasi kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat pernah dilakukan. “Beberapa waktu yang lalu, pernah ada yang datang untuk sosialisasi, tapi sekarang program itu tidak berjalan lagi”, kata Arya. Dinas Kesehatan setempat terakhir datang ke daerah Blimbingsari pada saat dilakukan pengasapan obat nyamuk. Setelah itu tidak ada sosialisasi lagi tentang masalah kesehatan lingkungan.
Blimbingsari adalah daerah yang berada di sepanjang bantaran Kali Code. Posisinya persis di samping sungai, hanya berbatas tembok yang tidak terlalu tinggi. Padahal menurut standar yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 829/MENKES/SK/VII/1999, salah satu parameter kesehatan lingkungan adalah tidak berada di daerah rawan bencana, termasuk bantaran sungai.

Sebagai daerah mahasiswa, Blimbingsari memiliki cukup banyak tempat makan yang menyediakan beragam menu. Sayangnya di tempat makan tersebut, faktor kesehatan tampak kurang diperhatikan. Cukup banyak ditemukan tumpukan sampah yang berada di sekitar rumah makan tersebut. Tumpukan-tumpukan sampah ini tak jarang mengundang lalat untuk hinggap di atasnya. Lalat tersebut dengan bebasnya hinggap di mana saja, termasuk makanan yang disediakan. Padahal lalat adalah salah satu vektor yang dapat menularkan penyakit bagi manusia.
Selain aspek kesehatan, daerah yang teramat padat dan penataan rumah yang berhimpitan dapat menyebabkan beberapa masalah lainnya, seperti resapan air dan cahaya matahari. Tidak adanya ruang yang cukup untuk penyerapan dan pembuangan air membuat daerah pemukiman padat mudah dilanda banjir. Rumah yang berhimpit juga membuat sinar matahari susah menembus pemukiman, padahal sinar matahari adalah salah satu indikator kesehatan yang perlu diperhatikan.
“Kalau hujan deras kadang banjir”, ujar salah satu mahasiswa yang tinggal di Blimbingsari. Hal ini disebabkan karena sebagian besar jalan sudah diplester dan hanya ada sedikit lahan tanah. Untuk masalah sinar matahari, berdasarkan pengamatan yang dilakukan, memang ada beberapa gang yang tidak mendapat sinar matahari. Terhambatnya sinar matahari ini menyebabkan gang tersebut dan beberapa rumah yang berada di sepanjang gang itu menjadi lembab.
Dinas kesehatan terkait selalu mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kesehatan lingkungan tempat tinggal mereka. Alasannya karena lingkungan yang tidak sehat akan membawa berbagai macam dampak buruk bagi masyarakat. Akan semakin sulit untuk mengontrol kesehatan lingkungan apabila suatu daerah memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Namun, masyarakat Blimbingsari justru berharap yang lain. “Harapan kami kos-kosan bisa tambah banyak lagi. Soalnya kos-kosan itu juga dapat menjadi sumber pendapatan lingkungan”, kata salah satu warga Blimbingsari. (Arum)
