Raden Aria Taher Tjindarbumi yang lahir 28 November 1902, merupakan salah satu putra terbaik Lampung karena dikenal memiliki rasa nasionalismenya yang tinggi. Bergulat di bidang jurnalisme, Tjindarbumi menjadikan profesinya sebagai alat untuk menentang keberadaan Belanda yang sewenang-wenang di bumi pertiwi.
Anak dari keluarga Demang di Telukbetung memiliki riwayat pendidikan yang sama dengan salah satu pendiri Boedi Oetomo, Dr.Soetomo. Mereka menempuh pendidikan di Sekolah Dokter Bumiputera School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta. Seperti dikutip buku Titian Pers Lampung (PWI Cabang Lampung: 1996), pendidikan Tjindarbumi di STOVIA hanya sampai di kelas V. Beliau lalu pindah ke Surabaya dan kembali masuk sekolah kedokteran di Nederlands Indische Artsen School (NIAS). Namun, di sini beliau juga tak kerasan dan kemudian pindah lagi ke Jakarta untuk menempuh studi ilmu hukum di Fakultas Hukum (Rechts Hogeschool).
Meskipun dari angkatan yang bereda dengan Soetomo (Soetomo masuk STOVIA pada 1903 sedangkan Tjindarbumi pada 1918),namun mereka sama-sama menempuh profesi yang sama yakni seorang jurnalis. Tjindarbumi mengawali karir jurnalismenya dengan menjadi wartawan pembantu. Tulisan yang beliau hasilkan dikirim ke harian Kemajoean Hindia di bawah pimpinan Raden Pandji Soeroso. Karena tulisannya yang tajam, Soetomo menawari Tjindarbumi untuk mengantikan posisinya sebagai pemimpin redaksi di harian Soeara Rakjat Indonesia di Surabaya. Namun pada tahun 1931, surat kabar tersebut menghentikan penerbitannya dan berganti nama menjadi Soeara Oemoem.
Pada tahun 1933, terjadi pemberontakan yang sangat terkenal di kapal perang De Seven Provincien yang tengah berlabuh di Ole-le. Para awak kapal dikabarkan merebut berbagai persenjataan yang ada di dalam kapal perang tersebut. Berita ini tentunya mengejutkan pemerintahan Belanda karena dianggap hal yang memalukan dan mencoreng wibawa pemerintah.
Melalui surat kabar yang dipimpinnya, Tjindarbumi menulis sebuah tajuk rencana yang isinya mengecam pemerintahan Belanda. Dengan tajam pula Tjindarbumi mengrkitik kantor berita pemerintah, Aneta, yang menyalahkan orang-orang Indonesia dalam pemberontakan di kapal perang tersebut. Hal ini menyebabkan kuping pemerintah Belanda menjadi panas. Tjindarbumi pun ditangkap dan diadili. Setelah jatuh keputusan, rambut sang jurnalis ini dipangkas habis dan diberi pakaian layaknya seorang tahanan. Tjindarbumi dijebloskan ke penjara selama 20 bulan di Kalisosok, Surabaya.
Atas jasa-jasanya terhadap negara, Tjindarbumi dianugerahi Perintis Pers Indonesia pada 31 Maret 1970 dan Perintis Kemerdekaan pada 25 Juni 1970. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Lampung juga mengabadikan nama Tjindarbumi sebagai bentuk penghargaan kepada merea yang berjasa membangun Lampung. Penghargaan tersebut diberikan setiap dua tahun sekali.

