Profil Tokoh Pers Indonesia | Abdul Rivai

Abdul Rivai dilahirkan di Palembayan, Bengkulu, pada 13 Agustus 1871. Ayahnya, Abdul Karim, adalah seorang guru di sekolah melayu. Sedangkan ibunya adalah keturunan raja-raja di Muko-Muko, Bengkulu. Background pendidikannya memang dokter karena ia merupakan pelajar di STOVIA yang kemudian meneruskan pendidikannya ke Belanda. Salah satu hal yang patut diteladani dari beliau adalah beliau merupakan orang pertama dari Indonesia yang bisa belajar kedokteran di negeri kincir angin tersebut.

Ia menjadi terkenal di Indonesia karena menjadi orang indonesia pertama yang turut andil dalam surat kabar berbahasa melayu di luar negeri, tepatnya di Amsterdam Belanda. Surat kabar berkalan yang diberi nama Pewarta Wolanda menjadi fenomenal sebagi satu-satunya surat kabar berbahasa Melayu di Eropa saat itu, selain itu Abdul Rivai juga merupakan orang pertama yang mengirimkan karya jurnalistiknya dari luar negeri ke Indonesia.

Namun salah satu kelemahan yang Abdul Rivai miliki yakni karena kurang bisa mengatur waktu, Abdul Rivai pun kesulitan mengejar gelar doktoralnya. Sehingga Ia pun terpaksa mengejar gelar doktoral di sebuah universitas di Belgia. Namun walaupun begitu, pada ujian doktoral yang berlangsung pada 23 Juli 1908, Abdul Rivai dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan, ketika itu juga ia resmi menjadi orang “Hindia” pertama yang meraih gelar doktor.

Salah satu tokoh nasional yang bisa dikatakan sangat menghargai Abdul Rivai yakni Kartini, seperti yang dipaparkan oleh Pramoedya Ananta Toer, bagi Kartini sosok Abdul Rivai telah menjadi harapan bagi kaum pribumi untuk mengangkat kehormatan dan martabat bangsanya. Kartini juga salut dengan Abdul Rivai yang berani bersikap tegas kepada emerintah Belanda guna menaikkan derajat bangsa Indonesia.

Setibanya di tanah air, Abdul Rivai juga turut andil dalam melakukan pergerakan nasional, ia merupakan anggota Indische Partij yang kemudian dibubarkan oleh Belanda, setelah pembubaran tersebut Abdul Rivai masuk ke Insulinde (organisasi penerus IP) dan bersama Tjipto Mangunkusumo diberi amanah untuk menjadi anggota volksraad Hindia Belanda pada tahun 1918, Abdul Rivai terkenal saat itu karena ia begitu vokal, kritis berani, dalam sidang-sidang yang digelar volksraad.

Satu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1919, Abdul Rivai kembali ke Eropa. Disanalah ia mulai berkecimpung dalam dunia jurnalistik lagi dengan bergabungnya ia di Koran “Bintang Timur”. Melalui Koran inilah Abdul Rivai aktif menyuarakan suara rakyat Indonesia dengan aktif menelanjangi kebusukan kolonialisme dan menyokong pergerakan pemuda Indonesia di Belanda.

Salah satu bentuk perjuangannya, yakni ketika ia  melaporkan secara khusus tentang kelompok Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, yang salah satu anggotanya adalah Bung Hatta, yang kemudian hari akan menjadi Wakil Presiden Indonesia pertama di Koran Bintang Timoer

Kelebihan Abdul Rivai dalam memproduksi tulisan yang tajam dan mampu membangunkan semangat-semangat bangsa Indonesia yang terpendam diakui oleh pemimpin Redaksi Bintang Timoer, Parada Harahap, selain sering menulis reportase mengenai kegiatan pergerakan pemuda-pemuda Indonesia di Belanda. Abdul Rivai juga juga menggalang berbagai bantuan untuk membantu pemuda-pemuda tersebut.

Pada tahun 1923, Abdul Rivai kembali ke Indonesia, karena tergerak untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah ia kumpulkan hingga ke negeri orang itulah akhirnya Abdul Rivai mendirikan klinik pengobatan di tanah abang, walau begitu ia juga tetap bekerja membantu Bintang Timur. Ia terus mengabdikan dirinya kepada Indonesia, hingga pada tanggal 16 oktober 1937, Abdul Rivai mengembuskan nafasnya yang terakhir.

(Visited 10 times, 1 visits today)