RM Tirto Adhi Soerjo memiliki nama kecil Djokomono dan lebih populer dengan nama singkatannya, yakni TAS. TAS adalah anak kesembilan dari 11 bersaudara. Dia lahir di Blora tahun 1875. Ayahnya, Raden Ngabehi Tirtodhipoero merupakan seorang pegawai kantor pajak pada masa pemerintah Hindia Belanda. Setelah orangtuanya meninggal, TAS kemudian ikut neneknya Raden Ayu Tirtonoto.
Meskipun lahir di Blora Jawa Tengah, namun TAS lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di Bandung, Jawa Barat. Perintis pers nasional ini sejak usia muda rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. Ia juga pernah membantu Chabar hindia Olanda pimpinan Alex Regensburgh selama dua tahun sebelum pindah menjadi redaktur Pembrita Betawi, Pimpinan F. Wriggers, yang tak lama kemudian digantikannya.
Pendidikannya yang pertama ia tempuh di sekolah HBS, yakni sekolah milik belanda kemudian melanjutkan strudinya sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, Batavia. namun karena semasa studinya TAS lebih banyak berkecimpung di media massa, pendidikannya pun terbengkalai, Ia dikeluarkan dari STOVIA.
Ada 3 surat kabar yang dibuat oleh TAS selama berada di bandung, yakni Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Poetri Hindia (1908). Namun yang paling terkenal adalah medan prijaji karena disebut-sebut sebagai surat kabar nasional pertama yang dimiliki Indonesia, hal itu dikarenakan medan prijaji menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia) dan seluruh proses produksi dan penerbitannya dikerjakan oleh pribumi asli, pada saat itu medan prijaji begitu digemari oleh masyarakat karena adanya satu rubrik khusus yang menyediakan penyuluhan hukum gratis.
Koran yang berpusat di kota Bandung ini memposisikan diri sebagai corong suara publik dengan moto “Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia” salah satu moto yang dianggap berani dan membentuk opini umum. Surat kabar Medan Prijaji lahir dari perkumpulan yang tirto dirikan, yakni organisasi pribumi bercorak modern pertama yang diberi nama Sarikat Priyayi.
Kemudian bersama H.O.S Tjokro-aminoto, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang tujuannya untuk mengumpulkan pedagang-pedagang muslim ke dalam 1 wadah organisasi besar agar bisa diorganisir dan tidak kalah dengan banyaknya pedagang cina saat itu, namun karena lama kelamaan tujuan Sarekat Dagang Islam ini mulai menyasar ke politik, namanya akhirnya berubah menjadi Sarekat Islam yang nantinya pecah menjadi SI merah dan SI putih
Walaupun tidak banyak yang mengenal baik pelopor pers nasional satu itu, namun namanya terukir dalam karya sastra besutan Pramoedya Ananta Toer, sosok Minke dalam Tetralogi Pulau Buru disebut sebut sebagai representasi dari sosok TAS. Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), menggambarkan Minke sebagai seorang putra bangsawan yang tidak takut untuk merangkak dari bawah demi mengangkat harkat dan martabat bangsanya di hadapan penjajah Belanda.
Ia tidak peduli status kebangsa-wanannya yang bisa ia pakai untuk tetap dihormati menjadi sia-sia, baginya kehormatan untuk diri sendiri tidak lebih penting dibandingkan dengan kehormatan negara Indonesia. Oleh karena itu ia banyak menulis kritik akan belanda melalui media massa sampai harus berhenti dari STOVIA karena terlalu sibuk menulis. Semuanya benar-benar merepresentasikan sejarah hidup TAS.
Semasa hidupnya TAS melangsungkan pernikahan sebanyak tiga kali, pada pernikahan pertama ia bersanding dengan putri bangsawan Cianjur bernama Raden Ayu Siti Suhaerah. Dan memiliki seorang anak bernama RM Priatman. Pada perkawinan keduanya dengan RA Siti Habibah, TAS memiliki anak RA Julia dan RM Hasan. Dan pada pernikahan terakhirnya TAS menikah dengan Prinses Fatimah atau lebih dikenal dengan Prinses van Bacan yang dinikahi saat dia berada di Maluku.
TAS mulai sering sakit-sakitan setelah ia kembali dari pembuangannya di Ambon, kesehatannya yang semakin memburuk membawa dia pada kematian yang tanggal 7 Desember 1917pada awalnya ia awalnya dimakamkan oleh keluarganya di Mangga Dua Jakarta. Pada hari kematiannya seperti digambarkan oleh mas Marko, seorang murid dan pengagum TAS dalam tulisannya: “dengan diantar rombongan sangat kecil jenazahnya dibawa ke peristirahatan terakhirnya di Mangga Dua.” Tak satupun koran memuat kabar kematiannya. Ia benar-benar telah dilupakan oleh bangsanya, yang dicintai, dan dididiknya untuk maju.
Oleh keluarganya, jasadnya kemudian dipindahkan ke pemakaman Blender, Kebon Pedes, Bogor tahun 1973. Tanggal kematian itulah, 7 Desember, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pers Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada TAS, dan tahun berdirinya Medan Prijaji, 1907, dijadikan sebagai awal tahun pers kebangsaan.

