Esai | Kelangsungan Hidup Surat Kabar di Era Media Baru

Manusia dari tahun ke tahun sangat membutuhkan informasi yang mudah diakses kapan dan di mana saja. Anggapan ini memunculkan asumsi dasar bahwasannya manusia hidup dalam lingkaran komunikasi yang tiada henti. Perputaran arus komunikasi sebenarnya berlangsung sepanjang hidup manusia. Baik disadari maupun tidak, manusia selalu mengoordinasikan suatu makna yang diperolehnya untuk diolah menjadi sebuah informasi. Komunikasi pula mampu memberi informasi yang mengonstruksi pikiran dan opini seseorang untuk memandang suatu fenomena yang ada.

Dalam perkembangan untuk memperoleh informasi, manusia menciptakan sebuah wadah yang bernama media untuk menjadi salurannya. Media yang dihasilkan tidak sebatas dari one to one antarkomunikator saja, tapi juga melibatkan banyak komunikator dalam proses komunikasinya. Salah satu contoh produknya adalah media konvensional dan media baru. Media baru dapat dikatakan sebagai media digital yang mencakup berbagai bentuk konten berupa teks, gambar, video, dan suara. Konten-konten tersebut terkonvergensi dalam suatu bentuk dan disimpan dalam format digital serta didistribusikan melalui jaringan broadband, satelit dan sistem transmisi (Flew, 2005).

Media baru dianggap mampu mewakili ketersediaan informasi dengan mudah. Media baru juga tidak sebatas sebagai one way communication, tapi mampu mencakup berbagai komunikator dengan umpan balik secara cepat. Lain halnya dengan media konvensional yang masih sebatas one way communication dengan umpan balik tertunda. Media konvensial juga belum terkomputerisasi maupun terdigitalisasi seperti salah satu produknya, surat kabar.

Surat kabar merupakan produk asli dari media konvensional yang dituntut mampu survive di era digital seperti sekarang ini. Dengan bentuk berupa hardcopy dengan lebar sedemikian rupa menyebabkan orang-orang masa kini malas menggunakan surat kabar sebagi sumber utama informasinya. Orang-orang akan lebih nyaman mengeluarkan gadget yang terhubung internet untuk sekedar mencari informasi yang diinginkan secara online. Informasi yang disediakan pun to the point karena memang para pembaca lebih menginginkan informasi yang cepat. Hal ini dianggap lebih praktis dan murah daripada harus keluar rumah hanya untuk membeli sebuah surat kabar di pinggir jalan.

Tersisihnya surat kabar terbukti ketika sebuah surat kabar legendaris di Inggris, The Guardian pada tahun 2012 pernah diisukan oleh The Daily Telegraph yang dikutip Detik, akan meninggalkan edisi cetak dan beralih ke media online. Perpindahan tersebut terjadi karena The Guardian harus merugi hingga 44 juta poundsterling dalam setahun. Bahkan lebih parahnya lagi, mereka diisukan akan memberhentikan hampir 100 staff editorial-nya dari total 650. Berita ini tentu sangat mengejutkan mengingat The Guardian sudah berdiri sejak 1821 dengan kemunculan pertamanya di Manchester. Sangat disayangkan jika sebuah surat kabar yang sudah berumur hampir dua abad, hilang begitu saja karena kalah saing dengan era digital.

Kabar miring ini pun langsung dimentahkan oleh Editor in Chief The Guardian, Alan Rusbridger. Menurutnya kabar tersebut merupakan isu belaka yang tidak ada kebenarannya. Rusbridger akan tetap mempertahankan versi cetak The Guardian di samping versi online yang berjalan demi menjaga tradisi yang sudah ada sejak lama.

Berbagai tantangan yang dihadapi surat kabar saat ini menyebabkan berbagai pimpinan media cetak dari seluruh dunia mengadakan Kongres Surat Kabar Sedunia (World Newspaper Congress) ke-66 di Centro Congressi Lingotto, pusat kota Torino, Italia pada 9-11 Juni 2014. Kegiatan yang dilaksanakan oleh World Association of Newspaper and Publisher (WAN-Ifra) ini membicarakan tentang posisi surat kabar yang semakin terancam keberadaanya karena berbagai gempuran media online dan digital. Pertemuan ini dianggap sangat penting bagi keberlangsungan surat kabar mengingat jika tidak dilaksanakan, bisa jadi surat kabar hanya menjadi sebuah benda yang sudah punah dan dicatat oleh sejarah tanpa ada perwujudanya.

Isu kepunahan yang mengancam surat kabar ditampik oleh wakil presiden dan pendiri RAM—Research and Analysis of Media—Staffan Hulten mengatakan bahwa surat kabar masih memiliki kekuatan dan daya tarik pada dewasa ini, khususnya untuk para pengiklan. “Seberapa menarik kah media cetak? Tentu sangat menarik dan Anda tidak dapat menyanggah hal tersebut. Media cetak masih menjadi media iklan yang sangat efektif,” ujar Hulten ketika menyampaikan presentasinya di acara tersebut seperti yang dikutip Koran Sindo dari laman resmi WAN-Ifra. Hulten percaya bahwa pengiklan akan menjadi kunci utama menyelamatkan hidup surat kabar di samping oplah penjualan yang mampu dicatatkan.

Sementara pandangan berbeda dilontarkan oleh Direktur Strategi Periklanan News Commercial Inggris, Abba Newbery, yang mengatakan bahwa media online dan media cetak tidak bisa dipisahkan begitu saja. Kedua media tersebut memiliki hubungan yang saling melengkapi satu dengan lainnya. “Hubungan pembaca dengan surat kabar semakin kuat. Hal tersebut bagus untuk pengiklan,” cetus Newbery. Hubungan yang dimaksud adalah ketika pembaca lebih dulu mendapat berita dari media online, maka dengan otomatis mereka akan mencari informasi yang lebih lengkap di surat kabar. Surat kabar memang lebih terkenal karena ulasannya yang lebih mendalam daripada media online yang cenderung to the point—walaupun tidak semua media online berlaku demikian.

Newbery menyampaikan fakta lain tentang sebuah studi yang terkait pembaca The Times di Inggris. Studi tersebut mengungkapkan bahwa rata-rata pembaca The Times memiliki hubungan yang berkelanjutan dengan surat kabar tersebut selama 20 tahun. Hal ini berarti, munculnya media online tidak akan memengaruhi eksistensi dari The Times sendiri yang merupakan sebuah produk asli dari surat kabar.

Namun fakta yang telah dikemukakan Newbery bukan berarti tidak dapat dianulir di kemudian hari. Lebih lanjut, dia mengungkapkan sebuah studi yang sangat kontradiksi dengan yang disampaikan pertama kali mengenai pembaca The Times. Sebuah riset dari perusahaan media terkemuka, Future Exploration Network pada 2010, mengangkat tema tentang “Newspaper Extinction Timeline” yang meramalkan keberadaan surat kabar di beberapa negara, cepat atau lambat akan punah. Di Amerika sendiri, kepunahan surat kabar diprediksi terjadi pada tahun 2017. Sementara Inggris terjadi pada tahun 2019; Kanada dan Norwegia tahun 2020; Finlandia dan Singapura tahun 2021; Australia dan Hongkong tahun 2022. Begitu juga dengan eksistensi surat kabar di Indonesia yang diprediksi akan hilang pada tahun 2040.

Prediksi tentang kepunahan surat kabar di Indonesia ini tidak sepenuhnya salah. Jika melihat pengguna media online di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Global Data Snapshot pada Januari 2014 lalu mengungkapkan bahwa pengguna media online di Indonesia mencapai angka 38 juta atau sekitar 15% dari total jumlah penduduknya. Fakta tersebut menyebabkan para pemilik media cetak di Indonesia mau tidak mau harus bekerja ekstra keras melakukan berbagai inovasi dan menjadikan produk mereka mampu bertahan di pasaran.

Managing Director Media Nielsen Indonesia, Irawati Pratignyo juga mengamini tentang bahaya kepunahan yang dihadapi media cetak saat ini. Menurutnya, media cetak dewasa ini mulai ditinggalkan oleh masyarakt Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. “Kota-kota berkembang di Jawa justru mengalami penurunan (pembaca media cetak) karena kelas menengah di Jawa lebih suka membaca berita lewat media digital,” ujar Pratignyo yang menganggap masyarakat Jawa sebagai masayarakat yang hanya menginginkan kepraktisan saja dalam mencari informasi.

Persaingan yang cukup ketat antara surat kabar dan media online menyebabkan  Pimpinan Redaksi Bisnis Indonesia, Arif Budi Susilo memiliki pandangan lain. Dikatakan, sebenarnya media cetak tidak perlu mengkhawatirkan kemunculan media online karena memang basis pemberitaan yang dimiliki keduanya sangat berbeda. Menurutnya, kedua media tersebut harusnya saling bersinergi dalam menyampaikan informasi ke masyarakat. “Media cetak dan online akan saling bersinergi dan tak akan mematikan karena keduanya memiliki konsep pemberitaan yang berbeda,” ujarnya kepada Republika di Jakarta.

Lebih lanjut Arif menjelaskan, media online memiliki ciri menyampaikan berita secara cepat dan singkat, sedangkan surat kabar lebih pada kontekstual. Ketika terjadi sebuah peristiwa untuk diberitakan, media cetak akan memberitakan secara lebih terperinci, rentetan kejadian pun akan diulas lebih mendalam mulai dari awal kejadian, penyebab, hingga langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi peristiwa tersebut.

Isu kepunahan media cetak di Indonesia sebenarnya tidak perlu dirisaukan karena media cetak memiliki segmentasi pembaca yang berbeda dengan media online dan memiliki pengikut yang cenderung setia. Contohnya, Bisnis Indonesia bergerak untuk menyediakan informasi khusus bisnis yang menyasar para ekonom dan para pebisnis lainnya. Bisnis Indonesia juga memiliki pembaca setia sehingga tidak perlu mencemaskan akan kebangkrutan. Dengan perumpamaan dan segmentasi seperti ini, media cetak akan terus dinantikan oleh para pembacanya. Mereka akan setia menunggu setiap harinya dan rela mengeluarkan uang untuk membasuh dahaga informasi yang dimilikinya.

Namun, untuk tetap eksis dan tidak tergusur dengan banyak media online yang bermunculan, media cetak mau tidak mau harus tetap mengeluarkan versi online-nya agar tidak kalah saing. Para pemilik surat kabar tidak bisa hanya mengandalkan satu media saja. “Ya cetak, ya online, harus kedua-duanya,” tutur Arif. Media online hanya digunakan untuk sekedar breaking news, namun tetap eksekusinya berada pada media cetak.

Dari berbagai pendapat yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemunculan media online merupakan sebuah suplementasi dari surat kabar yang saling bersinergi. Media online akan memberikan warna dengan berita singkatnya yang implementasinya berada di surat kabar. Ibaratnya, media online merupakan sebuah intro dari suatu berita dan surat kabar mengeksekusinya dengan perincian dan kompleksitas bahasan di dalamnya. Selama surat kabar masih memiliki pembaca setia dan para pengiklan tetap menggunakannya, maka tidak perlu takut akan kepunahan surat kabar pada era digitalisasi ini walaupun tidak menutup kemungkinan kedepannya para pemilik surat kabar akan beralih sepenuhnya ke media online karena semua keputusan berada di tangan pemilik media.

(Visited 26 times, 1 visits today)