Profil Tokoh Pers Indonesia | Soetopo Wonobojo

Soetopo Wonobojo adalah salah satu tokoh yang mungkin namanya asing di telinga kita. Memang sosok yang satu ini namanya sangat sulit ditemui pada buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Namun, dialah salah satu tokoh yang memiliki andil cukup besar dalam dunia jurnalistik di tanah air.

Ketertarikan Soetopo dalam dunia jurnalistik bermula tatkala dia bergabung ke dalam organisasi Boedi Oetomo tahun 1912. Pada 17 Maret 1920 Soetopo turut serta merintis PT Mardi Mulyo yang merupakan perusahaan percetakan guna mencetak Harian “Boedi Oetomo” edisi bahasa Melayu, yang merupakan medianya Pengurus Pergerakan Boedi Oetomo. Pada tahun 1922-1924 Soetopo menjabat sebagai Direktur PT Mardi Mulyo.

Karirnya dibidang jurnalistik terbilang cukup gemilang. Soetopo pernah memegang jabatan sebagai pimpinan redaksi di salah satu koran Belanda sebelum akhirnya pindah ke Darmo Kondho dan menjadi pimpinannya. Kegemarannya dalam bidang organisasi, menjadikan beliau memiliki inisiatif untuk mendirikan sebuah organisasi bagi para jurnalis. Hingga pada tahun 1933 bersama tokoh-tokohnya antara lain Sudarjo Tjokrosisworo, M Tabrani, Parada Harahap, Sjamsudin Sutan Makmur, dan lain-lain, beliau berhasil mendirikan Persa-toean Djoernalis Indonesia (PERDI). Beliau  menjadi  ketua  pertama  yang  menjabat  di  PERDI.

Pada masa penjajahan Jepang, Soetopo tidak aktif lagi didunia jurnalistik, beliau memilih berdiam diri dan memulai kegiatannya dalam Pakempalan Kawoela Surakarta yang merupakan gerakan politik lokal yang berseberangan haluan dengan Kraton Mangkunegaran sebelum beliau disekap di Penjara Sukamiskin Bandung oleh pemerintah Belanda. Selain itu, Soetopo juga ditengarai terlibat dalam sebuah small group discussion yang membicarakan tentang kebatinan, yang diselenggarakan setiap Selasa Kliwon dan dipimpin oleh Pangeran Soeryamentaram. Anggota dari perkumpulan ini adalah  Ki Hadjar Dewantara, R.M Soetatmo Soerjokoesoemo, R.M.H Soerjo Poetro, Ki Pronowidigdo, Ki Sutopo Wonoboyo, Ki Surjodirjo, BRM Subono, dan Pangeran Soeryamentaram. Peserta diskusi kebatinan ini mendapat sebutan ketika itu dengan “Gerombolan Seloso Kliwon”. Perkumpulan ini pula yang disebut-sebut adalah cikal bakal berdirinya Taman Siswa.

(Visited 235 times, 1 visits today)