Tahun 2012 lalu, Trans Jogja mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai layanan bus transit pertama di Indonesia yang menerapkan uang elektronik sebagai tiket bus secara multibank. Selain itu, Kementerian Perhubungan juga memasukkan Trans Jogja sebagai tiga besar layanan bus transit dengan kinerja terbaik di Indonesia, bersama dengan Trans Jakarta dan Trans Musi Palembang.
Namun, sebaik-baiknya Trans Jogja, tetap saja ada kritik yang mengikuti di belakangnya. Jika melihat peraturan yang dikeluarkan PT. Tugu Trans Jogja tentang Standar Pelayanan, di sana terdapat beberapa poin yang tidak diindahkan oleh para petugas yang sedang bekerja.

Minggu (8/3) pagi, seorang wanita paruh baya belum duduk sesaat setelah masuk bus. Namun, pengemudi langsung menginjak pedal gas, yang membuat wanita tersebut hampir terjatuh. Tidak hanya itu, supir bus juga sering sekali menginjak pedal rem secara mendadak, membahayakan para penumpang baik yang berdiri maupun yang duduk.
Setidaknya begitulah yang tertera di peraturan. Minggu (8/3), Saat bus Trans Jogja sedang berada di halte Janti, seseorang yang berparas sedikit tua, karena kondisi yang terlalu ramai, membuat orang tersebut sedikit terhambat dan bus Trans Jogja langsung melaju meninggalkannya. Padahal menurut peraturan, meninggalkan penumpang akan membuat sopir terkena sanksi sedang.
Tidak sopan pun juga identik dengan petugas Trans Jogja. Jarang tersenyum, jutek, bahkan marah-marah menjadi makanan empuk setiap penumpang Trans Jogja. Tidak dapat dipungkiri, perlakuan petugas Trans Jogja yang kurang sopan memang menjadi masalah terbesar dari para petugas. Mayoritas dari mereka tidak menggunakan 3S (Senyum, Sapa dan Salam) sebagai standar dari pelayanan publik. Banyak dari mereka hanya melakukan senyum. Bahkan, lebih buruk lagi, mereka marah-marah.
“Saya menggunakan Trans Jogja untuk pertama kali dan melewatkan halte tujuan. Selanjutnya, saat saya berbicara dengan petugas, ia marah-marah. Katanya lain kali harus memperhatikan,” kata Ryma Aulia, penumpang setia Trans Jogja.
Tidak hanya sebatas sikap, petugas juga ada yang rewel. Seorang petugas di halte Jombor terlihat tidak menggunakan seragam yang seharusnya dipakai saat bekerja. Jika dilihat dari peraturan yang dibuat, petugas tersebut seharusnya terkena sanksi sedang.
Kelalaian petugas juga patut diperhatikan. Tulisan dilarang merokok di dalam halte ternyata tidak mempan untuk seorang laki-laki berparas menakutkan. Alih-alih memperingatkan, petugas hanya duduk tak acuh terhadap hal tersebut.
Meskipun begitu, tetap ada petugas yang patut diacungi jempol karena melakukan 3S tersebut. Petugasnya selalu berkata untuk jangan meninggalkan dan memeriksa lagi barang bawaan di setiap halte di mana bus-nya akan berhenti.
“Saya melakukannya (3S) karena senang. Biar orang-orang juga nyaman menggunakan Trans Jogja. Kalau petugas lain tidak bersikap seperti saya, saya tidak mengerti. Itu tergantung sikap setiap individu,” kata Tejo, seorang petugas Trans Jogja yang melakukan 3S.
“Trans Jogja memang belum sebaik sistem Bus Rapid Transit (BRT) di Curitiba atau kota- kota besar lainnya. Namun, ini adalah langkah yang lebih baik, tidak boleh berhenti atau berganti kepada pilihan yang lebih buruk. Jika dikelola dengan baik, Trans Jogja dapat mewakili perkembangan kota cerdas yang berkelanjutan di Indonesia,” kata Emmy Rusniadi, seorang peneliti Trans Jogja.

