Revitalisasi Alun-Alun Utara, Pedagang dan Pemandu Wisata Rugi

Revitalisasi Alun-Alun Utara dilakukan pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengembalikan fungsinya  sebagai ruang publik.  Di samping segala perubahan positifnya, revitalisasi ini dianggap para pedagang dan pemandu wisata sebagai penyebab berkurangnya pendapatan mereka.

Alun-Alun Utara menjadi tampak lebih bersih dan rapi semenjak direvitalisasi. Bus-bus pariwisata pun juga sudah dilarang parkir di kawasan AAU. Kondisi ini secara tidak langsung justru akan mematikan perekonomian pedagang, karena minimnya jumlah wisatawan yang berada di kawasan tersebut.
Alun-Alun Utara menjadi tampak lebih bersih dan rapi sejak direvitalisasi. Bus-bus pariwisata pun dilarang parkir di sini. Para pedagang merasa dirugikan oleh kebijakan ini.

Seno, pedagang es kelapa di halaman depan Kraton Yogyakarta berkata, “Dulu waktu di sini ada parkir, kami bisa makan pakai ayam. Setelah tidak ada parkir, cuma bisa makan sambel.” Seno juga mengaku, ia bersama teman-temannya sesama pedagang belum pernah mendapatkan sosialisasi terkait dengan kebijakan revitalisasi tersebut.

Keluhan berbeda disampaikan oleh Jono,  pedagang asongan yang berjualan di kawasan Alun-Alun Utara.

“Pemerintah rencananya memang merelokasi kami, dan sudah menyiapkan tempat di sebelah timur dan barat keraton. Tetapi kalau wisatawannya tidak ada, terus siapa yang mau beli?” kata Jono.

 

Ini adalah tempat relokasi yang sedianya akan dipakai oleh para pedagang di kawasan AAU. Pemerintah memang sudah menyiapkan ruang bagi relokasi pedagang. Tetapi, tempat ini dirasa kurang strategis dan jauh dari pandangan wisatawan.
Bangunan di timur keraton ini disiapkan pemerintah untuk relokasi pedagang. Namun pedagang menilai lokasinya tidak strategis. (Maharsitama)

Lain pula dengan apa yang disampaikan oleh Sugeng Mardjono, salah satu pemandu wisata yang ada di kompleks wisata Tamansari.

“Semenjak Alun-Alun Utara direvitalisasi, bus-bus dan kendaraan travel harus parkir di kantong parkir dulu. Akses menuju ke sini pun cukup lama. Itu yang menyebabkan wisatawan dari agen wisata sudah kehabisan waktu kunjung,” kata Sugeng.

Sugeng menambahkan, armada Si Thole dirasa belum cukup muat untuk mengangkut jumlah wisatawan dari kantong parkir menuju Tamansari. Apalagi ketika memasuki musim liburan.

Si Thole ini berbayar. Kalau mau ke Tamansari harus bayar transportasi. Nanti kalau mau masuk ke objek wisata juga harus bayar lagi. Kadang hal seperti itu yang membuat wisatawan malas mampir ke Tamansari,” kata Sugeng.

Selama tidak memasuki memasuki musim liburan seperti sekarang ini, Tamansari bisa dikatakan sepi dari kunjungan wisatawan.
Di musim bukan liburan seperti sekarang, Tamansari sepi. Hal ini ikut dipengaruhi oleh terbatasnya jumlah angkutan pariwisata yang bisa masuk ke kawasan Tamansari. (Maharsitama)
(Visited 6 times, 1 visits today)

2 comments

  1. wah, menarik ni liputannya, ternyata jogja masih memendam sekelumit permaslahan tentang “urban design” yang belum terselesaikan.

Comments are closed.