Degradasi Makna Ukiran Khas Yogya, dari Tiang Lampu hingga Balai Kota

Untuk wisatawan, salah satu ciri khas Yogyakarta adalah beragam ukiran tradisional yang menghiasi pilar, lampu jalan, gapura, hingga lampu lalu lintasnya. Namun, apakah pelestarian ukiran khas Yogya itu sudah dilakukan secara benar?

Kegelisahan itu diungkapkan oleh KRT Jatiningrat atau Romo Tirun, dalam Forum Komunikasi Stakeholder Pariwisata & Kebudayaan “Wonderful Jogja, Wonderful Indonesia” pada 22 Maret lalu di Balaikota Jogja. Ia menyayangkan bahwa filosofi ukiran  yang begitu luhur itu kini telah disalahgunakan. Contohnya, ukiran Putri Nirung yang terdapat pada pilar khas Kraton, yang kini justru marak digunakan sebagai dasar tiang bendera bahkan lampu lalu lintas.

“Mereka tidak mengerti bahwa terdapat makna yang mulia pada ukiran itu. Ada huruf arab mim ha mim dal yang berarti Muhammad, bagaimana bisa dijadikan alas tiang bendera?” kata Romo Tirun.

[slideshow_deploy id=’6748′]

Penduduk asli Yogya yang telah bertahun-tahun hidup dan bekerja di sekitar Malioboro juga tidak menyadari bahwa ukiran tersebut memiliki arti. Ngadino, yang telah menjadi juru parkir di kawasan tersebut selama 20 tahun, juga hanya menganggapnya sebagai hiasan.

Terjadinya degradasi makna pada arsitektur tradisional Yogya ini dibenarkan oleh Eko Cahyo Saputro, arsitek yang juga bekerja sebagai asisten tim ahli Masterplan Jogja 2030. “Kita tidak mengenal apa filosofinya, hanya asal tempel-menempel. Jadinya seperti arsitektur eklektisme,” katanya.

Penyalahgunaan makna ukiran lainnya terdapat pada komponen bangunan joglo. Bangunan joglo sebenarnya dikenal dari tingkat ningrat, yaitu Kraton sebagai pusatnya, lalu ke keturunan keluarga kerajaan. Tingkatan yang lebih rendah adalah pemangku desa, yang joglonya tidak serumit milik keluarga kerajaan. Ini bisa dilihat dari ornamen saka guru atau pilar, misalnya. Di joglo pemangku desan terdapat ukiran probo atas dan bawah, melambangkan sinar matahari. Di tengahnya terdapat wajikan berbentuk persegi empat. Jika tingkatannya lebih sakral, akan ada mayang poro, untu walang, dan lain-lain yang melambangkan bangunan tersebut milik keluarga ningrat.

Tetapi yang banyak terjadi kini, komponen ukiran yang berkaitan satu sama lain malah dihadirkan secara terpisah. Ketika mereka dipisahkan, tentu makna luhurnya akan hilang . Hal ini sangat umum terjadi pada tingkat kelurahan atau tempat umum yang membangun joglo, bahkan di Balai Kota Yogyakarta. Misalnya, ukiran Tumpang Sari, yang sebenarnya menjadi pengikat pilar-pilar menjadi satu kesatuan perlambang manisnya kehidupan di dunia, dihadirkan terpisah dengan penyangganya sehingga menjadi tanpa makna.

Menurut Eko, peran tim ahli bidang arsitektur serta budayawan harus diperkuat karena mereka menguasai teorinya, sehingga dapat meluruskan nilai-nilai yang mulai bergeser di kalangan masyarakat luas. Sayangnya, ilmu mengenai arsitektur Jawa ini tidak diajarkan secara khusus pada program studi arsitektur di Jawa. Arsitek muda tidak dapat bersentuhan secara langsung dan hanya mengetahui secara umum tentang arsitektur nusantara. Saat ini, Eko berupaya mengajukan kurikulum mata kuliah reinterpretasi arsitektur Jawa bersama dosen di UGM, agar calon-calon arsitek dapat lebih mengenal budayanya sendiri dan ikut menjaga nilai luhur dibaliknya.

“Yang namanya nilai luhur harus diturunkan dan dilestarikan secara turun tumurun. Cara pelestariannya harus berselera, tidak hanya asal tempel, mereka harus tahu maknanya,” katanya.

(Visited 4 times, 1 visits today)

One comment

  1. good job kid…..pedagang malioboro atau sunday morning UGM itu juga keren lo kalau diliput…..semoga sukses selalu. amin

Comments are closed.