Berseminya Tari Rampoe di UGM

Penampilan komunitas SAKA dalam acara Malam Apresiasi Lomba Desain Batik Konservasi, 2014 silam. (Dok. Narasumber)
Penampilan komunitas SAKA dalam acara Malam Apresiasi Lomba Desain Batik Konservasi pada 2014. (Shofi Mujahidah)

Kutidieng laha dieng bet

Kutidieng laha dieng bet

La hem bet

Bet la tidieng la ham bet

Bot lati dieng

Suara nyanyian yang terdengar asing di telinga orang Yogya menggema di lantai satu Grha Saba Permana, UGM (27/3). Sore itu sekitar pukul 16.30 puluhan mahasiswa yang didominasi oleh perempuan duduk berbaris hendak latihan menari. Para mahasiswa tersebut tengah belajar salah satu tarian tradisional dari Aceh, yaitu Tari Rampoe.

Dalam beberapa tahun terakhir, tari tradisional Aceh ini begitu diminati oleh mahasiswa UGM. Hal ini didukung dengan adanya komunitas Tari Rampoe yang tak hanya ada di tingkat universitas namun ada juga di fakultas bahkan jurusan. Menurut Shofi Mujahidah, Pertanian ’11, ketua komunitas Tari Rampoe tingkat universitas Sanggar Kesenian Aceh (SAKA) UGM, ada beberapa komunitas tari rampoe di UGM.

“Komunitas tersebut ada di Fakultas Pertanian, Peternakan, Farmasi, FKG, dan jurusan seperti Komunikasi, HI, serta yang lainnya,” kata Shofi. Selain SAKA, ada juga Rampoe UGM yang juga komunitas Tari Rampoe tingkat universitas. Salah satu daya Tari Rampoe adalah gerakannya yang sistematis dimulai dengan gerakan pelan, sedang, dan cepat. Hal ini seiring dengan pernyataan Shofi bahwa Tari Rampoe ini adalah tari yang membutuhkan ketepatan, kecepatan, dan kekompakan. Selain itu, gerakan yang dibawakan dengan duduk dan mengandalkan kekuatan kaki serta tangan menjadi keunikan tersendiri.

Menurut Yahya Muhaimin, pelatih dan anggota komunitas Tari Rampoe di UGM, ada kesalahan pengertian terhadap Tari Rampoe dan Tari Saman. “Iya, selama ini mahasiswa mengenalnya Tari Saman padahal yang mereka pelajari di kampus adalah Tari Rampoe,” tuturnya. Hal ini karena sudah berkembang di masyarakat bahwa tarian Aceh yang dibawakan secara duduk adalah Tari Saman. Padahal menurut mahasiswa asli NTT ini, Tari Saman adalah tarian tradisional asal Tanah Gayo yang dibawakan oleh laki-laki tanpa diiringi gendang ataupun alat musik lainnya. Tari Saman hanya mengandalkan suara tepukan dan penarinya. Berbeda dengan Tari Rampoe yang dibawakan perempuan dan diiringi alat musik dan penyanyi (Syeikh). “Yang sekarang banyak dipelajari oleh mahasiswa adalah Tari Rampo karena diiringi alat musik rapa’i dan syeikh”, ujar Yahya.

Selain tingkat universitas dan fakultas, beberapa jurusan juga mewadahi mahasiswanya dalam mengembangkan bakat dalam hal menari. Di antara jurusan tersebut ada Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional. Kedua jurusan ini memiliki komunitas sendiri dalam melestarikan seni tradisional. Zara, Ilmu Komunikasi ’14, mengatakan bahwa dengan menari ia dapat melatih tubuhnya agar tetap bergerak. “Soalnya kalau tari tradisional lainnya kurang energik, maka saya memilih untuk belajar Tari Rampoe,” ungkapnya.

Mengingat banyaknya komunitas Tari Rampoe yang tersebar di UGM, tentu saja tak sedikit prestasi yang dicapai. Beberapa komunitas tercatat pernah berhasil mengharumkan nama UGM baik nasional maupun internasional. Di antaranya adalah penampilan SAKA pada 9th Sabah International Folklore Festival tahun 2014 dan Rampoe UGM pada Festival Mondial de Folklore di Belgia.

Menurut Shofi, meski ada banyak komunitas Tari Rampoe  di UGM, ini tidak membuat mahasiswa saling menjatuhkan karena ada nilai-nilai Islam yang dibawakan dalam setiap gerakannya. “Harapannya semoga komunitas-komunitas yang ada di UGM dapat berkolaborasi sehingga tercipta kualitas yang semakin bagus dan lebih berprestasi lagi,” kata Shofi.

(Visited 3 times, 1 visits today)