Agen muda pelestari budaya berusaha diwujudkan secara nyata oleh pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2014. Tak hanya bermodal 3B (Brain, Beauty, dan Behaviour), masing-masing pemenang dituntut terampil dalam berbagai jenis kesenian tradisional.
Fajar, pemenang Dimas Sleman 2014 yang juga lulusan Sastra Nusantara FIB UGM, telah mempelajari bagaimana budaya itu lahir, peradaban itu dibentuk, termasuk bagaimana Indonesia mengenal peradaban menulis. Dimas Berbakat DIY 2014 ini memiliki kemampuan bahasa tradisional yang unik, mulai dari aksara Sansekerta, Jawa kuna, Jawa baru, hingga Jawa yang kita kenal sekarang. Ia juga menyukai seni tari dan telah menguasai 8-9 tarian tradisional Jogja hingga saat ini.
Mantan ketua HMJ Sastra Nusantara ini juga secara khusus membuat program kerja kesenian pada masa jabatannya di HMJ tersebut, yaitu seni tari, macapat, dan karawitan. “Aku ingin menghidupkan kembali akar dari ruh kebudayaan yang lambat laun mulai tergerus,” ujarnya. Pernyataan tersebut ia wujudkan juga dengan pendirian komunitas seni tari anak-anak di desa Semin, Gunung Kidul, yang beberapa pentasnya diliput oleh media.
Aliran seni tradisional lainnya ditekuni oleh Arief Zuhdito, juara 2 Dimas Sleman 2014. Ia tertarik pada tembang macapat serta menguasai teknik memproduksi batik cap khususnya batik asli Sleman, Parijotho. Lulusan Media Rekam ISI Yogyakarta ini juga membuka usaha toko online batik Sleman www.amazingbatik.com yang bekerjasama dengan pengrajin lokal untuk produksi. Meski usahanya baru dimulai pada awal tahun 2015 dan peminatnya masih terbatas, tetapi selalu ada pendapatan yang cenderung naik per bulannya.
Kemampuan tembang macapatnya diperoleh otodidak dengan melihat Youtube. Bermodal pengalaman mengikuti tim paduan suara, ia mencoba mendalami seni macapat dengan mengetahui isi dan makna lagu, belajar nada dan pakemnya, serta menghafalkannya. Saat ini, pemuda asli Sleman ini telah menguasai berbagai tembang seperti Gambuh, Dhandanggula, Asmaradhana, dan lain-lain. Ia mengaku masih harus terus belajar untuk menguasai lebih banyak lagu dari jenis tembang-tembang lainnya.
Berbeda dengan mereka, Tri Nurvian Fadillah, finalis Dimas Diajeng Sleman 2014, ini tertarik dengan tari Bali dan Hinduisme. Ia menguasai tari Baris, Puspa Resthi, Margapati, Cendrawasih. Pemuda yang menguasai beberapa bahasa asing ini juga sempat diminta mengajar tari oleh penduduk desa wisata Nawung setelah tampil bersama Fajar di desa tersebut. Sayangnya, keinginan itu belum dapat terlaksana karena terkendala lokasi yang jauh.
Mahasiswa Pariwisata FIB UGM 2011 ini juga penggemar berat pewayangan. “Kalau anak-anak biasa punya boneka kesayangan, aku lebih sayang sama wayangku, Werkudara. Saat anak-anak menggilai komik, aku justru sibuk dengan buku R.A Kosasih tentang Wayang Purwa,” ujar Ve, panggilan akrab Tri Nurvian. Ve juga berpendapat bahwa cerita wayang tidak kalah menarik dengan film Hollywood dan drama Korea masa kini. Ia mengibaratkan Power Rangers adalah Pandhawa Lima, The Lord of The Rings dengan Perang Baratayudha, serta serial BBF dengan Mahabaratha.

Fajar, Arief, dan Ve merupakan contoh kecil generasi muda yang mewujudkan kecintaan mereka terhadap budaya dan seni tradisional. Umumnya, generasi muda tidak peduli karena mereka tidak tahu banyak. Jika mereka sudah tahu, mereka bebas saja memilih untuk suka atau tidak. “Seharusnya sejak kecil sudah diajarkan bagamana nenek moyang memitologikan banyak hal sehingga mereka bisa tahu,” kata Fajar.
Arief berharap bahwa eksplorasi budaya dapat dilirik oleh generasi muda dengan memanfaatkan teknologi masa kini. “Pelestarian kebudayaan itu tidak hanya tentang Jawa, bisa saja tentang kebudayaan di daerahmu masing-masing, lakukanlah mulai dari sekarang. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan melestarikannya?” katanya. (ARS)

